Tampilkan postingan dengan label Environment. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Environment. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Juni 2012

Mengatasi global warming


Beberapa minggu yang lalu saya sempat berbincang-bincang di messenger dengan Fenny, salah seorang marketer dari Radio Suara Sakti Semarang (105.2 FM). Kebetulan radio tersebut hendak membuat acara kampanye Global Warming. Seperti apa sih kampanye Global Warming?

Tentu saja banyak hal yang menjadi pertimbangan dalam kampanye Global Warming. Salah satunya adalah karakteristik dari target kampanye. Karena beda target tentu saja pendekatan berbeda. Apakah targetnya sekitar kalangan pelajar yang homogen ataukah masyarakat umum yang heterogen. Pertimbangan yang tak kalah pentingnya adalah menetapkan masalahnya ada di mana. Dalam penelitian kesehatan, ada 3 hal yang sering dijadikan patokan yaitu: Pengetahuan, Sikap dan Perilaku.

Apakah pengetahuan tentang Global Warming yang kurang, sikapnya yang tidak setuju, atau perilakunya yang tidak sesuai?

Memang untuk menggambarkan adanya kecenderungan atau keterkaitan dari ketiga hal tersebut perlu dilakukan suatu survey atau penelitian lebih lanjut. Karena bisa jadi pengetahuan yang cukup tidak dapat merubah sikap, apalagi perilakunya. Namun ada kalanya kita melihat orang dengan perilaku yang mencerminkan peduli pemanasan global namun tanpa mengetahui apa itu pemanasan global.
Lalu kita mulai dari mana? Keterbatasan akan kurangnya penelitian mengenai pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat terhadap Global Warming bukanlah alasan untuk tidak mengkampanyekan Global Warming. Seperti kata Fenny, kita bisa memulainya dengan menekankan pada aspek “Pengetahuan” ditambah sedikit latihan untuk merubah sikap.

lanjutkan tulisan sebelumnya mengenai “Pengaruh Pemanasan Global terhadap Kesehatan“. WHO (World Health Organization) sebagai organisasi kesehatan dunia mengangkat isu ini menjadi tema dari Hari Kesehatan Sedunia (HKS) tahun 2008, yaitu Protecting Health from Climate Change atau Melindungi Kesehatan dari Perubahan Iklim. Sebenarnya masalah kesehatan merupakan masalah ‘hilir’ dari pemanasan global (Global Warming) dan perubahan iklim (Climate Change). Hulu permasalahannya ada pada bidang lain yang lebih dulu merasakan dampaknya. Dokter dan tenaga medis lainnya menjadi ‘tukang cuci piring‘ jika hanya mengobati saja. Karena itu, yang jauh lebih penting adalah upaya adaptasi terhadap perubahan iklim yang telah terjadi dan upaya untuk mengurangi dampak buruk dengan berbagai langkah pencegahan.
Berbicara tentang langkah-langkah pencegahan, banyak yang berkomentar kalau merasa diri belum siap. Belum siap untuk menggunakan mobil hybrid, belum siap untuk tidak menggunakan AC, belum siap untuk tidak menggunakan komputer lama-lama. Padahal hal tersebut hanya beberapa dari berbagai langkah untuk mencegah pemanasan global. Masih banyak cara lainnya. Wiellyam menyebutkan 3M pada postinganku sebelumnya: Mulai dari hal kecil, Mulai dari diri sendiri dan Mulai dari sekarang.

Ada sebuah persepsi yang menurut saya agak keliru, upaya mencegah pemanasan global sering diidentikkan dengan kembali ke jaman batu. Tidak menggunakan pesawat terbang ketika berpergian, tidak menggunakan komputer, tidak menggunakan kendaraan bermotor dan masih banyak lagi tidak-tidak yang lain. Memang itu penting dalam mencegah pemanasan global, tetapi menurut saya jangan sampai upaya kita untuk peduli pemanasan global membuat kita tidak produktif dalam bekerja. Hiduplah sewajarnya. Jika memang dirasa perlu berpergian menggunakan pesawat terbang, ya gunakanlah. Jika memang perlu menggunakan komputer, ya gunakanlah. Upaya peduli bisa kita tunjukkan dari penggunaan yang ’sewajarnya’. Jika tidak digunakan harap dimatikan.

One Small Step is a Big Leap
Beberapa bulan yang lalu ketika di Bali terjadi krisis energi listrik, PLN menghimbau untuk mematikan sebuah lampu 5 watt yang biasa dihidupkan pada malam hari antara pukul 19.00-21.00 WITA, karena pada jam-jam tersebut sedang terjadi beban puncak pemakaian listrik. Terdengar kecil kan? Hanya sebuah lampu 5 watt. Namun bila seluruh Bali mau peduli untuk mematikan lampu 5 watt yang biasa dihidupkan tersebut, maka krisis energi listrik dapat teratasi. One small step is a big leap, satu langkah kecil yang dilakukan sejak dini adalah lompatan besar di masa yang akan datang. Jangan ragu untuk berbuat hal kecil demi kebaikan di masa depan. Begitulah harapan untuk menggugah setiap orang untuk bisa ikut andil dalam usaha peduli Global Warming.

Masalah Global warming atau pemanasan global memang sudah tidak asing lagi, penyebabnya tidak lain berasal dari manusia sendiri. Global warming terjadi karena adanya EFEK RUMAH KACA dimana panas yang diterima bumi dari sinar matahari yang seharusnya di pantulkan kembali ke luar angkasa, itu malah dipantulkan kembali ke bumi oleh adanya awan polusi.
Sebenarnya ada bermacam cara memperlambat dampak pemanasan global, cara-cara tersebut umumnya mudah dan sederhana. Tetapi kurang dilakukan secara serius oleh kebanyakan orang. Padahal pemanasan global adalah masalah yang serius. Suhu Bumi yang terus meningkat akan ber efek panjangnya musim kering atau kemarau. Mencairnya gunungan es di kutub. Naiknya permukaan air laut. Dan sulitnya mencari sumber mata air. Kalau sudah begitu siapa coba yang tanggung jawab? Berhubung Masih belum terlalu parah efeknya, mari kita lakukan 14 langkah perubahan menuju hidup yang lebih baik, berkualitas  dan ramah lingkungan.

1. Batasi Penggunaan kertas

Tanamkan di pikiran anda kuat-kuat, bahwa setiap anda menggunakan selembar kertas maka anda telah menebang sebatang pohon. Oleh karena itu gunakan kertas se-efektif mungkin misalnya dengan mencetak print out bolak-balik pada setiap kertas. Bila anda nge-printsesuatu yang tidak terlalu penting, gunakanlah kertas bekas yang dibaliknya masih kosong.

2. Ganti bola lampu.

Segera ganti bola lampu pijar anda dengan lampu neon. Lampu neon ini membutuhkan energi yang lebih sedikit dibanding lampu pijar. Ingat setiap daya daya listrik yang anda pakai maka anda turut serta menghabiskan sumber daya energi listrik yang kebanyakan berbahan bakar fosil. Bahan bakar fosil adalah bahan bakar tak terbarukan, dan dalam jangka sepuluh tahun ke depan mungkin bahan bakar jenis ini akan habis.

3. Hindari Screen Saver

Shut down Komputer anda jika tidak akan digunakan dalam jangka lama, atau jika anda terpaksa meninggalkan komputer dalam keadaan menyala, matikan screen saver.Mengaktifkan screen saver akan memakan energi dan mengeluarkan emisi Co2. Jadi matikanscreen saver anda sekarang!

4. Periksa tekanan ban

Setiap anda ingin bepergian janagn lupa memeriksa tekanan ban kendaraan anda. ban yang kurang angin akan memperlambat laju kendaraan dan akhirnya akan membutuhkan bahan bakar yang lebih banyak.

5. Buka jendela lebar-lebar

Di  Amerika , sebagian besar dari 22,7 ton emisi CO2 berasal dari rumah. Kebanyakan emisi atau gas buang tersebut berasal dari AC, kulkas, kompor gas atau refrigerator. Unutk meminimalkannya ketika dapat mengatur termostat AC dengan suhu udara di luar ruangan. Kemudian bukalah jendela lebar-lebar karena sirkulasi udara yang terjebak dapat  mengkonsumsi energi.

6. Gunakan pupuk organik.

Pupuk yang digunakan kebanyakan petani mengandung unsur nitrogen,  yang kemudian berubah menjadi N2O yang menimbulkan efek GRK (Gas Rumah Kaca) 320 kali lebih besar dari pada CO2. Jika anda hobi berkebun gunakanlah pupuk organik. Disamping aman, murah pula.

7. Tanamlah rumpun bambu

Pepohonan memang terbukti mampu menyerap CO2, tetapi ternyata pohon atau rumpun bambu mampu menyerap CO2 empat kali lebih banyak dari pohon-pohon lain.

8. Naik kendaraan umum

Saat ini jumlah kendaraan pribadi sudah teramat banyak dan bikin sumpek. Sector transportasi menyumbang sampai 14 %  emisi gas rumah kaca ke atmosfer, jika kita menggunakan kendaran umum maka kita mengurangi emisi gas rumah kaca, karena dalam satu kendaraan umum bisa mengangkut puluhan orang, dan itu sangat hemat energi. Dibandingkan dengan kendaraan pribadi sperti sedan yang hanya mengangkut maksimal empat orang.

9. Kurangi makan daging sapi

Betul, kurangi dari sekarang memakan daging sapi. Selain megandung kalori y ang tinggi. Daging sapi juga menyumbang emisi gas rumah kaca yang cukup signifikan. Setiap kilogaram daging sapi yang kita makan, setara dengan menyalakan bola lampu 20 watt selama 20 hari.

10. Jangan pakai kantong plastik

Di beberapa Negara bagian Amerika, urusan kantong plastik bahkan sampai dibuat undang-undangnya segala. LSM peduli lingkungan mendorong pemerintah Negara setempat unutk melarang penggunaan kantong plastic sebagai kantong belanjaan. Plastik ini memang unsur yang sulit terurai, butuh 1000 tahun untuk mengurainya didalam tanah.
Efek Gas rumah kaca yang ditimbulkannya juga cukup besar. Maka beralihlah ke kantong kain, misal dari kain serat alami.

11. Membeli produk lokal

Produk lokal tentu tidak memerlukan jalur distribusi yang panjang dan membutuhkan banyak bahan bakar. Ini berarti mengurangi emisi CO2 yang dikeluarkan mobil-mobil pengangkutnya. Kemudian belilah produk sayuran atau buah-buahan sesuai musimnya. Ini akan menghemat biaya transportasi dan menghindari harga jual yang mahal.

12. Hidup efisien

Apapun aktifitas manusia di bumi akan berdampak pada bumi yang kita diami ini. Pola komsumsi energi, pola lingkungan dan sebagainya. Hiduplah seefisien mungkin, gunakan sedikit energi, komsumsilah sedikit makanan, tinggalkan pola hidup konsumtif, ramahlah terhadap lingkungan, sedikit bicara lebih banyak berpikir, dan sebagainya.

13. Mengemudi cerdas

Hindari perjalanan yang panjang dan menghabiskan waktu, bila mungkin memotong jalan lakukanlah. Kurangilah aktifitas yang menggunakan kendaraan pribadi. Jika terpaksa menggunakan kendaraan pribadi, pilihlah jalan-jalan alternative yang bebas macet dan tidak mengkonsumsi energi. Bila anda menunggu, matikan mesin sebab gas buangan tetap keluar sementara bahan bahan bakar terpakai.

14. Pakai baju bekas

Sekarang bukan jamannya gengsi, toh kita mati tidak membawa gengsi. Tak perlu malu memakai baju bekas atau baju warisan orang tua. Dengan mengurangi membeli pakaian baru maka anda membantu mengurangi pemakaian listrik di pabrik pakaian.
Apalagi banyak bahan kain sintetis yang mengandung minyak bumi. Bahkan katun yang berasal dari kapas ternyata mengandung pestisida.

Mengatasi kebanjiran

Guna mengatasi banjir, melalui proyek Jakarta Emergency Dredging Initiative (JEDI), Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan melakukan pengerukan, rehabilitasi dinding sungai atau turap, dan pengadaan pompa pada 13 sungai dan lima waduk.

Menurut Deputi Tata Ruang dan Lingkungan Pemprov DKI, Achmad Harjadi, tumpukan sampah di aliran sungai menyebabkan pendangkalan sungai yang melintasi Jakarta. Akibatnya jika hujan turun terus menerus, akan terjadi luapan dan menyebabkan banjir.

"Studi kelayakan dan masterplan JEDI sudah kita siapkan. Banyaknya sampah yang membuat air sungai meluap, dan ini harus diperbaiki," ujar Achmad Harjadi, Selasa, 4 Oktober 2011.

Ada delapan sungai yang menjadi tanggung jawab pemerintah pusat dalam JEDI tersebut yakni Kali Kamal, Kali Tanjungan, Kali Angke, Kali Cideng, Cengkareng Drain, Banjir Kanal Barat, Kali Sunter, Cakung Drain.

Sedangkan Pemprov DKI bertanggung jawab terhadap lima sungai dan lima waduk. Yaitu Kali Krukut, Kali Cideng-Tanah Sereal, Kali Jelakeng-Kali Pakin-Kali Besar, Kali Ciliwung Gunung Sahari, Sodetan Sentiong Sunter, Kali Grogol – Sekretaris. Sementara untuk waduk, ada Waduk Pluit, Waduk Melati, Waduk Sunter Utara, Waduk Sunter Selatan, Waduk Sunter Timur III.

"Proyek ini mampu mengurangi kawasan banjir sebesar 40 persen serta mengurangi korban banjir dari 2,6 juta orang pada tahun 2007, menjadi 1,6 juta pada 2010," tambahnya.

Untuk langkah pengerukan dan peninggian dniding sungai akan diikuti dengan pengembangan pengamanan trace di daerah hilir yang meliputi lima aliran sungai.

"Sungai di Cipinang, Sunter, Buaran, Jati Kramat, Cakung akan dialirkan ke Kanal Banjir Timur dan berfungsi sebagai koridor hijau," katanya.

Selain mengimplementasikan JEDI, Pemprov DKI juga akan melakukan mengembangkan sistem pengendali banjir di hulu yang berupa peningkatan daya tampung sejumlah waduk.

Seperti Waduk Ciawi yang akan menampung air dari sungai Ciliwung, Waduk Limo yang akan menampung air dari Sungai Pesanggarahan, Waduk Halim, Pondok Rangon dan Sunter Hulu yang akan menjadi tempat penampungan sungai Sunter jika terjadi luapan air. Sedangkan untuk situ yang akan dilakukan rehabilitasi antara lain Situ Mangga Bolong, Situ Babakan, Situ Rawa Dongkal dan Situ Cipondoh.

"Waduk dan situ mengalami pendangkalan dan maka perlu ditata ulang dan direhabilitasi sehingga bisa menjadi penampungan dan pengaturan air jika terjadi peningkatan debit air di sungai-sungai,” tambah Harjadi.

Pembangunan daerah hulu akan dibarengi dengan pengembangan dan rehabilitasi di daerah hilir sehingga bisa memperlancar aliran sungai yang melintasi Jakarta. Daerah hilir merupakan tempat keluar air yang menuju ke laut. Daerah hilir yang akan dilakukan revitalisasi antara lain, Polder Pluit, Polder Ria-Rio, Polder Sunter Timur 1B, Sunter Timur 2, Sunter Utara, dan Polder Marunda.

Pemprov DKI juga berharap ada dukungan dari pemerintah daerah penyanggah seperti Bogor, Depok, Bekasi, Tangerang, dan Cianjur. Karena itu, diperlukan koordinasi dan sinkronisasi regional Jabodetabekjur terkait dengan implementasi Perpres No. 54 tahun 2008 tentang Penataan Ruang Jabodetabekpunjur.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sepertinya tak peka dengan derita warga Jakarta dalam hal banjir. Seperti yang terjadi pada Senin malam, banjir di Jakarta membuat kemacetan luar biasa.

Berikut solusi yang ditawarkan tim ahli ITB Prof Syahril B Kusumah seperti dilansir akun twitter staff ahli Presiden bidang bantuan Sosial dan Bencana Alam Andi Arief, Selasa (26/10/2010):

Hujan Jabodetabek tidak merata dengan curah sedang-tinggi, 1 sampai dengan 3 jam. Karena tidak merata, maka air hujan mengalir ke sungai-sungai/kali yang jenuh, aliran drainage buruk, hingga aliran air terhambat.

Terhambatnya air hujan ini, berakibat pada tergenangnya jalan-jalan di wilayah Jakarta. Banjir Kanal Timur dan Barat sepertinya tidak mampu mengatasi banjir Jakarta ini.

Pembuatan situ-situ dan biopori, selain biaya sosioal-ekonomi tinggi, juga hanya akan mengatasi 20 persen saja potensi banjir Jakarta. Untuk mengatasinya dalam jangka pendek yang murah, yakni membersihkan drainase/sungai dari sampah/sedimen/pampetan lainnya.

Memberlakukan denda bagi yang membuang sampah sembarangan, dapat banyak mengurangi banjir Jakarta di Selatan. Hanya saja bisa membuat banjir Jakarta Utara, terutama jika pompa kurang, dan air laut sedang pasang atau rob.

Untuk mengatasi banjir Jakarta secara jangka panjang, yakni dengan mengoptimalkan banjir kanal timur dan barat. Membangun waduk di muara Jakarta akan mengurangi secara signifikan banjir Jakarta (hasil penelitian sdh disampaikan ke pemda jauh hari).

Dua sungai di Jakarta, Ciliwung yang membelah kota Jakarta dan kali Pasanggrahan yang tipis menyentuh kawasan Jakarta Selatan dan Tangerang persis seperti dua kali banjir kanal yang melintas di sisi timur dan barat kota Semarang.

Kali banjir kanal timur dan kali banjir kanal barat di kota Semarang mungkin bisa dijadikan contoh untuk penanganan banjir di Jakarta kalau Fauzi Bowo tidak malu dan berjiwa besar, mencontoh untuk kebaikan, untuk rakyat di Jakarta yang selalu dilanda duka akibat banjir kiriman dari Bogor yang terjadi setiap tahun.

Pembuatan kali banjir kanal timur di Jakarta yang proyeknya tersendat-sendat akibat pembebasan lahan, biaya dll mungkin tidak perlu dilanjutkan. Untuk mengatasi banjir di Jakarta cukup membuat talud di sepanjang Sungai Ciliwung dan Kali Pasanggrahan saja.

Pembuatan talud setinggi 8 meter sepanjang sungai Ciliwung dimulai dari kawasan yang topografinya mulai menurun dan merata hingga ke Laut. Tidak ada pintu air sepanjang talud sungai Ciliwung atau Kali Pasanggrahan yang akan menghalangi derasnya air sungai saat datang kiriman air dari Bogor, kecuali pintu air kecil yang digunakan untuk mengalirkan air ke Sungai Ciliwung pada saat air sungai tidak tinggi yang ditutup pada saat terjadi luapan air akibat hujan deras di kota Bogor.

Untuk keperluan mandi, cuci dan buang air bagi masyarakat yang bermukim di bantaran sungai ciliwung, cukup diberikan tangga naik  dari pemukiman dan tangga turun menuju permukaan sungai Ciliwung. Dengan konsep ini sungai Ciliwung di Kawasan Kota Metroplitan Jakarta akan terlihat rapi, ditembok semen dengan cor beton yang kuat sekuat cor beton Jalan tol layang.

Dibilangan Jakarta Utara seperti dikawasan Gunung Sahari misalnya, semua sungai ditinggikan taludnya termasuk jembatan-jembatan yang melintas diatasnya, sehingga tidak ada air sungai yang meluap ke jalan raya gunung sahari yang kerap digenangi air saat musim hujan. Pembuangan air disekitar Jl. Raya Gunung Sahari dibuatkan parit-parit kecil untuk buangan air rumah tangga dan perkantoran dimana parit-parit kecil ini bertemu pada titik terendah Jl. Raya Gunung Sahari di kawasan Mangga Besar atau Mangga dua misalnya. Kalaupun harus dialirkan ke sungai yang sudah ditinggikan taludnya, sebaiknya dibuatkan pintu air yang bisa ditutup saat air disungai sepanjang jalan raya gunung sahari meninggi.

Senin, 11 Juni 2012

Bahaya Emisi Karbondioksida

Salah satu penyebab global warming adalah emisi karbon dioksida yang sangat tinggi. Emisi ini dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil. Menurut struktur kimianya, bahan bakar yang juga disebut hidrokarbon terdiri dari rantai ataom karbon dan hidrogen. Jika hidrokarbon ini dibakar dengan oksigen, maka akan menghasilkan karbondioksida dan uap air. Tetapi jika pembakarannya tidak sempurna maka akan dihasilkan juga karbonmonoksida yang sangat beracun.

Sumber utama penghasil emisi karbondioksida secara global ada 2 macam. Pertama, pembangkit listrik bertenaga batubara. Pembangkit listrik ini membuang energi 2 kali lipat dari energi yang dihasilkan. Semisal, energi yang digunakan 100 unit, sementara energi yang dihasilkan 35 unit. Maka, energi yang terbuang adalah 65 unit! Setiap 1000 megawatt yang dihasilkan dari pembangkit listrik bertenaga batubara akan mengemisikan 5,6 juta ton karbondioksida per tahun! Kedua, pembakaran kendaraan bermotor. Kendaraan yang mengonsumsi bahan bakar sebanyak 7,8 liter per 100 km dan menempuh jarak 16 ribu km, maka setiap tahunnya akan mengemisikan 3 ton karbondioksida ke udara! Bayangkan jika jumlah kendaraan bermotor di Jakarta lebih dari 4 juta kendaraan! Berapa ton karbondioksida yang masuk ke atmosfer per tahun?

Penting diingat, emisi Gas Rumah Kaca harus dikurangi! Jadi harus dibangun sistem industri dan transportasi yang TIDAK bergantung pada bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara). Kalau perlu, TIDAK menggunakannya SAMA SEKALI! Karena Perubahan Iklim adalah masalah global, penyelesaiannya pun mesti secara internasional. Langkah pertama yang dilakukan adalah pembuatan Kerangka Konvensi untuk Perubahan Iklim (Framework Convention on Climate Change) tahun 1992 di Rio de Janeiro, Brazil, yang ditandatangani oleh 167 negara. Kerangka konvensi ini mengikat secara moral semua negara-negara industri untuk menstabilkan emisi karbondioksida mereka.

Sayangnya, hanya sedikit negara industri yang memenuhi target. Langkah selanjutnya berarti membuat komitmen yang mengikat secara hukum dan memperkuatnya dalam sebuah protokol. Dibuat lah Kyoto Protocol atau Protokol Kyoto. Tujuannya: mengharuskan negara-negara industri menurunkan emisinya secara kolektif sebesar 5,2 persen dari tingkat emisi tahun 1990.

BBM Alternatif, Perlukah?

Semenjak penggunaan mesin berbahan bakar fosil digunakan, hampir setiap hari minyak bumi dikonsumsi oleh manusia. Ladang-ladang minyak didirikan, pom bensin banyak dibangun dipinggir jalan, mobil-mobil diproduksi setiap hari, dan masih bayak lagi hal-hal lainnya yang memanfaatkan minyak bumi sebagai bahan bakar. Kita sangat merasa terbantu sekali dengan adanya minyak bumi ini.

Tetapi, tanpa kita sadari, konsumsi akan minyak bumi semakin tinggi. Semua orang berebut untuk mendapatkan bahan bakar minyak. Dan kita akhirnya lupa dengan satu hal yang penting, yaitu dampak penggunaan minyak bumi. Kita terlalu asyik untuk memikirkan cara menggunakan bahan bakar minyak tanpa berfikir dampak penggunaanya. Dan akhirnya kita semua tahu dampaknya adalah polusi udara dan pemanasan global.

Udara dikota-kota industri sangat kotor dengan banyaknya asap hitam hasil pembakaran di pabrik-pabrik. Udara semakin panas sehingga menyebabkan berbagai dampak lingkungan hidup. Es di kutub selatan dan di Greenland mulai mencair. Itulah berbagai akibat yang terjadi karena eksploitasi besar-besaran minyak bumi.
Mengapa semua itu bisa terjadi? Polusi udara sebenarnya adalah hal yang wajar terjadi dalam dunia ini. Sebelum adanya manusia polusi terjadi akibat letusan gunung berapi yang mengotori udara. Hanya saja, yang membuat polusi udara menjadi berbahaya adalah jka kadarnya terlalu tinggi tanpa diimbangi dengan pembersihan udara. Tumbuhan dapat mengurangi polusi karbon dioksida dengan proses fotosintesis. Tetapi jumlah karbon dioksida yang ada di atmosfer sekarang tidak sebanding dengan jumlah karbondioksida yang diserap oleh tumbuhan. Hal itu menyebabkan karbon dioksida berkumpul di atmosfer dan diudara sehingga terjadi polusi. Dengan peningkatan karbon dioksida juga menyebabkan suhu bumi meningkat karena karbon dioksida adalah salah satu gas rumah kaca.

Setelah manusia mulai menyadari dampak penggunaan bahan bakar fosil yang dapat membahayakan, manusia mulai berfikir untuk mencari bahan bakar alternatif, Tetapi apakah bahan bakar alternatif lain yang diusulkan ini dapat efektif? Kita ambil contoh saja bioetanol yang berasal dari jagung. Jika saja kita menggunakan etanol dari jagung ini, maka diperlukan berapa juta hektar lahan jagung untuk memenuhi kebutuhan manusia? Itu akan mengakibatkan dampak lain yaitu berkurangnya lahan tempat tinggal dan lahan hutan. Orang akan membuka hutan dan menjadikannya lahan jagung. Tentunya itu merusak lingkungan bukan?

Yang saya sarankan adalah penggunaan bahan bakar yang dapat diperbaharui dan terdapat di alam ini tanpa perlu menciptakannya. Kita ambil contoh energi matahari. Memang penggunaan energi matahari masih jarang karena mahalnya biaya untuk mendapatkannya. Jadi kita harus bagaimana dong? Yang bisa kita lakukan sekarang adalah hemat, hemat, dan hemat. Jika kita ingin bepergian, pilihlah kendaraan angkutan umum karena tentunya akan dapat menggunakan bahan bakar lebh hemat dibandingkan kendaraan pribadi. Misalnya satu bis dapat menampung 100 orang dan mobil hanya bisa menampung 5 orang. Maka jika ada 100 orang ingin bepergian cukup dengan satu bis saja kan? Tetapi jika dengan mobil pribadi memerlukan 20 mobil yang artinya konsumsi bahan bakar untuk 20 mobil akan jauh lebih banyak dibandingkan dengan satu bis saja.

Hal itulah yang paling penting sekarang. Rata-rata kita malu naik bis dan merasa hebat dengan menaiki mobil. Padahal hal itu adalah hal yang keliru dilihat dari segi lingkungan hidup. Ada orang yang untuk pergi ke warung saja menggunakan mobil dibandingkan jalan kaki. Itu sungguh keterlaluan bukan? Jadi tanamkanlah pada diri kita untuk selalu menghemat BBM. Jangan cuma memikirkan masalah gengsi saja. Kita harus bersatu untuk menjadikan bumi ini indah kembali.